Begini Ritual Adat Untuk Pemimpin Tertinggi di Pulau Rote

    


Keluarga besar Bupati Rote Ndao, Leonard Haning disambut tokoh adat dalam tradisi pindah rumah - foto: Isak Doris Faot/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Setiap daerah di Indonesia memiliki budaya dan adat tradisi masing-masing yang tak terhitung jumlahnya. Setiap tradisi adalah keunikan yang biasanya tidak terdapat di daerah lain. Di Pulau Rote Ndao, keunikan tradisi terlihat saat Bupati Rote Ndao, Leonard Haning menempati rumah jabatan barunya di desa Sanggoen, Kecamatan Lobalain.

Tradisi untuk pemimpin tertinggi di Pulau Rote, berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Ritual tersebut dinamakan sambutan bagi Manalia atau pemimpin tertinggi. Selain diarak oleh tokoh masyarakat, Bupati beserta keluarga diiringi dengan kuda hias dari rumah jabatan lama ke tempat tinggal yang baru.

Setibanya di rumah jabatan, ada empat lapis tarian yang menyambut mereka. Kemudian begitu menjejakkan kaki di pendopo disambut tutur oleh tokoh adat Desa Sanggoen, Martinus Bailao. Bupati juga mendapatkan tiga kali percikan air kelapa sebagai simbol pendinginan bangunan yang akan digunakan sehingga selaras dengan penguninya.

“Bupati sebagai pemimpin tertinggi memimpin masyarakat Rote Ndao disebut Aniyan dan Laowingu yang artinya penghuni rumah. Rumah ini disebut Batumakatatuk Ai Nasalalaik (Gedung yang ada),” kata Martinus Bailao.

Rumah Tersebut menjadi rumah pimpinan sekaligus untuk mendengarkan keluhan masyarakat yang dipimpinnya.

Ribuan tokoh masyarakat diwilayah Rote Ndao hadir dalam upacara itu dengan mengenakan pakian adat lengkap. Tradisi tersebut menyedot perhatian khalayak luas di pulau yang terletak di ujung selatan Indonesia itu
 
 
zak