Bedah Naskah Kuno Keris Dalam Cerat Centhini

    


Keterangan foto: Penyerahan keris kahuripan dari staf ahli Kementerian Perdagangan kepada ketua gongso husada yang di prakarsai Mpu Totok Brojodiningrat/ Foto: koranjuri.com

KORANJURI.COM- Komunitas, Pemerhati keris dan budaya Jawa, Kamis, (27/10) menggelar acara bedah naskah kuna tentang keris dalam Serat Centhini ‘ Keris sebagai karya budaya ‘, bertempat di Museum Keris Surakarta.

Hadir sebagai narasumber acara, Mpu Totok Brojodiningrat dari besalen Brojodiningrat mewakili Akademisi dan pemerhati keris Nusantara. Mpu Basuki Teguh Yuwono dari besalen Brojobuwono yang juga mewakili Akademisi dan pemerhati keris Nusantara. H Ronggajati Sugiyatno sebagai Pemerhati literature dan naskah kuno.

keterangan foto: dari kiri, mpu basuki teguh yuwono, mpu totok brojodiningrat, moderator, H Ronggajati/foto: koranjuri.com

keterangan foto: dari kiri, mpu basuki teguh yuwono, mpu totok brojodiningrat, moderator, H Ronggajati/foto: koranjuri.com

Bedah buku tentang keris dalam serat centhini di hadiri juga oleh Staf Ahli Kementerian Perdagangan Eva Yuliana MS.i bertindak sebagai pecinta keris dan budaya jawa.

Dalam sambutanya Eva mengatakan, keris tidak hanya sebagai mahakarya budaya para leluhur Nusantara, tetapi ada empat symbol di dalam keris yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Jawa, ke empatnya adalah rasa, karsa, cipta dan karya.

Rasa jelas Eva, jika tidak ada maka tidak akan ada kehidupan didunia ini. Manusia tercipta sebagai mahkluk yang di anugerahi rasa. Manusia adalah central dari keberlangsungan dan kelestarian alam semesta. Rasa meliputi dua unsur keseimbangan yang menjadi bagian dari keseimbangan alam semesta, baik dan buruk, senang dan susah serta keseimbangan rasa lainya.

Rasa bagi masyarakat jawa adalah sebuah kebenaran, panca indera bisa menipu tetapi rasa bathin tidak akan pernah mampu menyembunyikan sebuah kebenaran. Filosofi ‘ urip iku kudu sarwo di penggalih ‘, hidup yang selalu mengedepankan rasa senantiasa menjadi pedoman hidup masyarakat jawa yang selalu mengedepankan rasa.

Setelah rasa maka akan ada karsa, sebuah doa dan harapan kebaikan masyarakat Jawa kepada Tuhan Sang Maha PenciptaNya. Harapan dalam doa adalah bentuk komunikasi antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, dalam rangka Memayu Hayuning Bawono, membangun dan menjaga keselarasan alam semesta.
Karsa, keinginan atau kehendak yang akan membawa manusia kedalam perilaku sebagaimana mestinya perasaan yang ada di dalam bathinya. Jika perasaan gundah maka akan resah, jika perasaan senang maka juga akan riang.

Jika rasa memiliki cahaya kabaikan, maka karsa atau keinginan manusia kepada Tuhan juga harapan harapan kebaikan. Untuk mewujudkan harapan kebaikan di ciptakanlah karya lewat cipta, akal budi pikiran manusia. Yang pada akhirnya melahirkan karya karya agung seperti keris, gamelan dan buku buku kuno yang di lahirkan dari penyatuan rasa, karsa, cipta dan karya.

Keris tidak hanya karya agung para leluhur Nusantara, tetapi juga memiliki filosofi ‘ Surodiro Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti’ , kekerasan yang harus tunduk pada kelembutan.

‘Sekeras apapun besi tetap akan bisa di bengkokan, seperti cara mpu membabar keris’ Jelas Staf Kementerian Perdagangan dalam babaranya.

Acara bedah buku kuno serat Centhini tentang keris, di isi penyerahan keris Kahuripan dapur Jalak dari Staf Ahli Kementerian Perdagangan kepada ketua gongso husada, kelompok para penabuh gamelan jawa pengiring gending gending khusus yang di yakini memiliki energy untuk kesembuhan.

Menurut H.Ronggajati Sugiyatno, dalam buku serat Centhini yang menjabarkan tentang perkerisan hanya di dalam jilid I sampai dengan jilid IV. Jilid I menerangkan tentang ukuran keris dan landeyan tombak. Jilid II menerangkan tentang pengetahuan keris dan tombak. Jilid III menerangkan makna , Murad dan rahasia Keris. Jilid IVmenerangkan hari baik untuk nyepuh dan mbusanani .

‘ Dalam naskah serat centhini ada beberapa penyebutan istilah keris yakni, dhuwung, curiga dan katga. Sebutan ini hanya untuk menyesuaikan penulisan sekar alit ( maca pat ) yang di sesuaikan dengan guru lagu maupun guru wilangan ‘ Terang H Ronggajati, pemerhati dan literasi naskah kuna.

Sementara itu terkait dengan keris sebagai sebuah mahakarya budaya, Mpu Totok Brojodiningrat memaparkan tentang hari baik dalam membuat keris.

‘ keris yang tercipta pada kala ( waktu ) yang tidal semestinya atau tidak tepat waktu, maka tidak akan melahirkan keris yang memiliki daya linuwih. Justru sebaliknya akan menyisakan cerita tragis, sebagaimana cerita yang terpatri dalam lakon carangan para winasis jaman dulu. Seperti terciptanya keris Kalanadah, Kala Hamisani dan Pulanggeni.’ Jelasnya.

Dalam serat manikmaya, ketiga pusaka tersebut lahir dari nafsu Sang Hyang Jagat Giri Nata yang tak kuat menahan keelokan Dewi Uma saat berada di pangkuanya kala terbang bersama lembu andini di atas samudera. Kama ( sperma ) Sang Hyang Jagad Giri Nata tersembur jatuh kedalam samudera membuat samudera mendidih seakan protes dan bergolak. Dari dalam samudera kemudian menjelmalah sosok mahkluk nggegirisi yang di sekujur tubuhnya penuh upas dan racun mematikan.

Sebagai rajanya raja para dewa, Sang Hyang Jagad Giri Nata meminta mahkluk nggegirisi yang tercipta dari kamanya sungkem kepada ayahandanya. Pada saat sungkem itulah taring dan ligahnya di cabut di puja menjadi keris Kalanadah, Kaladite dan Kala Hamisani.

‘ Sedangkan dari lidahnya di puja menjadi bedor anak panah yang sangat terkenal dengan nama Pasopati ‘ Ujar Mpu Totok Brojodiningrat.

Jika uraian terjadinya keris pusaka tersebut di batasi oleh frame serta pola pandang yang sempit maka yang muncul hanya mitos atau dongeng. Padahal jika di cermati secara utuh, para winasis jaman dahulu dalam menyampaikan ajaran atau kaweruh selalu dengan sangit yang halus, menarik dan mudah di hafal. Mengupas pesan di balik cerita.

‘ Batara kala yang di artikan sebagai raksasa adalah perlambang waktu, demikian juga keris pusaka Kala hamisani yang memiliki makna bertemunya wiji dadi, saat indung telur membuai sperma.’ Kata Mpu Totok Brojodiningrat dalam paparanya

Keberadaan manuskrip dalam ranah ilmiah, menurut Mpu Basuki Teguh Yuwono, berupa karya sastra sehingga membutuhkan telaah dan kajian mendalam dalam penguasaan ilmu sastra. Karena bersifat sastra sehingga multi tafsir dan banyak memiliki persepsi.

Dari sisi akademisi ilmiah, sumber rujukan harus di komparasikan dengan data data arkeolog dan data primer lainya. Seringkali dalam karya sastra bersifat sinandi, simbolis dengan latar belakang mitologis sehingga di butuhkan referensi dan wawasan yang cukup dalam mengkaji .

‘Sebagai penyeimbang di perlukan telaah dan kajian akademisi ‘ Tutupnya. ( Djoko )