Baru Seminggu Beroperasi, Galeri dan Kafe di Ubud Terbakar

    


Petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gianyar tengah memadamkan api di Omah Gelato, Jalan Raya Tebongkang Desa Singakerta, Ubud, Sabtu (14/11) malam - foto: Catur/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kebakaran terjadi di sebuah galeri dan kafe Omah Gelato di Jalan Raya Tebongkang, Desa Singakerta, Kecamatan Ubud, Sabtu (14/11) malam. Kafe yang dibuka secara resmi seminggu lalu itu terbakar sekitar pukul 23.00.

Dikonfirmasi Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang juga membidangi Pemadam Kebakaran (Damkar) Gianyar, I Made Watha menjelaskan, pihaknya telah turun ke lapangan melakukan pemadaman saat kejadian.

Disebutkan anggotanya telah di lokasi sekitar pukul 23.07 pasca mendapat laporan kejadian tersebut.

“Sudah kita atensi dengan pengerahan lima armada, begitu mendapat laporan regu kita terjun ke lokasi. Penyebabnya masih dalam lidik pihak yang berwenang,” jelasnya, Minggu (15/11).

Dalam kesempatan itu, Watha juga menyanpaikan pokok benda yang terbakar merupakan Omah Gelato berupa galeri dan  cafe.

Jumlah yang terbakar satu unit yang memiliki luas 6,6 meter x 30 meter.

“Pemiliknya Nyoman Birit (50), asal Banjar Duduk, Desa Singakerta. Kami kerahkan lima armada yaitu BW 06, 07, 08, 09 dan 10. Penanganannya juga cukup lama, sekitar 1 jam lebih karena lokasi kejadian luas dan kobaran api besar,” ujarnya.

Sementara pemilik galery dan Gelato Shop, Nyoman Birit menyampaikan untuk detail kejadiannya ia tidak mengetahuinya. Sebab saat kejadian ia dihubungi oleh rekannya bahwa galery miliknya terbakar.

“Saya persisnya kurang tahu jam berapa, karena ada teman yang menghubungi, sampai di sana sekitar jam 11-an sudah banyak mobil damkar. Saya mulai buka tanggal 6 minggu lalu, tapi bangunannya sudah lama. Saya buka Gelato Shop di sana,” terangnya.

Pemilik memperkirakan kerugiannya diatas Rp 2 milyar. Sebab mesin yang ia beli harganya mencapai Rp 1 miliar.

“Kalau kerugian sudah banyak sekali, kalau bangunan sudah semua hancur. Paling mahal itu kan mesin-mesinnya, mesin gelato kan mahal. Mesin-mesinnya aja sekitar Rp 1 miliar jika sama bangunan sampai Rp 2,5 miliar,” ungkapnya.

Disinggung tindaklanjutannya, ia menjawab tidak ada planing tindaklanjut kejadian itu.

“Saya juga belum melapor polisi. Tadi malam ada sih banyak polisi tapi saya belum lapor. Kalau saya lapor, kemudian ada orang ditangkap saya bisa apa juga,” kata pria asal Guliang Kawan Bangli itu. (ning)