Bank Indonesia: Vaksinasi Covid-19 Pengaruhi Pemulihan Ekonomi di Bali

    


Obrolan Santai BI Bareng Media (Osbim) yang digelar Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Selasa, 23 Februari 2021 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pemulihan pariwisata Bali dipengaruhi oleh progres vaksinasi covid-19, tingkat keyakinan bepergian, kebijakan perlintasan orang dan ekonomi global.

Deputi Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, pemulihan ekonomi di Bali lebih lambat dibandingkan perekonomian nasional. Mengingat, Bali sangat bergantung dengan sektor pariwisata.

“Hasil tracking sampai dengan triwulan I 2021 menunjukkan, pemulihan berlangsung lebih
lambat dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya,” kata Rizki di acara Obrolan Santai BI Bareng Media (Osbim) di Denpasar, Selasa, 23 Februari 2021.

Dikatakan, wisatawan nusantara diperkirakan pulih lebih awal dan berpotensi menjadi penopang pariwisata Bali. Sedangkan, kunjungan wisman diproyeksikan baru akan kembali pulih pada tahun 2024.

Rizki mengatakan, perekonomian Bali pada tahun 2021 diperkirakan tumbuh positif, seiring dimulainya distribusi vaksin covid-19 yang berdampak pada perbaikan tingkat kepercayaan pelaku usaha
dan perbaikan mobilitas domestik.

Disamping itu, rencana peningkatan investasi swasta dan pemerintah juga turut mendorong pertumbuhan di tahun 2021. Di tahun 2020, kunjungan wisman ke Bali sudah terlihat mulai turun di akhir Januari. Namun, wisatawan domestik tetap tumbuh.

“Awal Maret 2020 mulai merosot sampai sekarang. Okupansi hotel (berbintang) terakhir tinggal 19 persen, sedangkan non bintang hanya 5,4 persen,” jelasnya.

Sementara pertumbuhan positif ekonomi di Bali diperkirakan dimulai pada triwulan II 2021. Sehingga secara keseluruhan tahun 2021 perekonomian diperkirakan tumbuh positif.

Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Trisno Nugroho mengatakan, optimisme terhadap pertumbuhan positif didukung oleh perkiraan selesainya proses pemberian vaksin kepada warga Bali. Upaya itu didukung dengan menurunnya kasus covid-19.

“Sehingga mengembalikan aktivitas ekonomi di berbagai sektor, termasuk aktivitas konsumsi, investasi, kinerja fiskal, ekspor dan impor,” jelas Trisno Nugroho.

Ia merekomendasikan lima langkah strategis. Pertama, mendorong pelaku pariwisata untuk memperoleh sertifikat CHSE untuk meyakinkan bahwa Bali siap menerima wisatawan.

Kedua, mendorong UMKM onboarding sehingga memperluas pemasaran. Ketiga, mempercepat realisasi belanja daerah. Keempat, mendorong sektor pertanian untuk menerapkan Good Agriculture Practice(GAP), menggunakan teknologi digital dalam berproduksi (digital farming) dan memasarkan produknya melalui e-commerce.

Kelima, mendorong pembayaran secara non tunai, utamanya menggunakan QRIS. Saat ini tercatat, 910 hotel di Bali sudah mengantongi sertifikat cleanliness, health, safety and environment sustainability (CHSE). (Way)