Bali Ciptakan Sejarah, Setelah 17 Tahun Dibudidayakan Anggur Syrah Akhirnya Panen Perdana

    


Ida Bagus Rai Budarsa saat panen perdana anggur jenis Syras yang dibudidayakan selama 17 tahun di Desa Sanggalangit, Buleleng Utara, Bali Barat - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Penantian selama 17 tahun penanaman anggur Syrah akhirnya berbuah hasil dengan panen perdana pada Jumat, 2 November 2018. Lahan anggur seluas 8 hektar di Desa Sanggalangit, Buleleng Utara, Bali Barat itu, menjadi lokasi sejarah baru keberhasilan pembudidayaan bahan baku wine yang benihnya langsung didatangkan dari negeri Kangguru, Australia.

Pengembangan bibit anggur Syrah dikatakan pemilik produsen wine di Bali Hatten Wines, Ida Bagus Rai Budarsa, menggunakan sistem pagar. Hal itu berbeda dengan yang dilakukan di Australia dengan menggunakan sistem jaring untuk menangkal hama burung.

“Kami disini melakukan sistem pagar yang berbeda dengan yang dilakukan di Australia. Mengingat, menggunakan jaring biayanya cukup mahal,” jelas Rai Budarsa di Singaraja, Jumat, 2 November 2018.

Untuk panen perdana ini, Rai Budarsa tidak berharap banyak dari hasil panen yang didapat. Namun dirinya berharap dari 8 hektar lahan Syrah yang ada sekarang akan menghasilkan setidaknya 5 ton buah anggur.

Kemudian menurutnya, pasca panen perdana kali ini, lahan anggur Syrah tersebut tidak akan dibuahkan lagi selama musim penghujan hingga April 2019 tahun depan. Treatment yang dilakukan untuk menghilangkan buah adalah dengan melakukan pemotongan daun dan cabang yang tumbuh.

Winemaker Hatten Wines, James Kalleske - foto: Koranjuri.com

Winemaker Hatten Wines, James Kalleske – foto: Koranjuri.com

“Karena jenis bibit anggur Syrah ini tidak terlalu suka kelebihan air. Kami disini juga membuat aliran air sedemikian rupa untuk meminimalkan air yang terserap agar buahnya tumbuh maksimal. Kedepan, panen akan terjadi setahun dua kali,” jelasnya.

Rai Budarsa juga mengatakan, hari ini menjadi sejarah baru untuk Bali dalam mengembangkan bibit anggur baru yang jarang selama ini belum pernah berhasil ditanam dalam jumlah besar di Indonesia.

Sementara, Winemaker Hatten Wines, James Kalleske menjelaskan, Syrah atau Shiraz adalah nama untuk menggambarkan buah anggur yang sama dari tanaman yang sama. Hanya, budidayanya yang dilakukan berbeda dibandingkan dari tempat asalnya.

Secara tradisional nama Syrah digunakan untuk menggambarkan tipe wine yang dibuat dari anggur Shiraz yang menunjukkan karakter Finnesse and a lightse body dalam wine-nya.

“Kami telah merujuk dan memilih jenis anggur Bali kami yang baru dipanen ini. Pertumbuhan anggur berikutnya menggunakan nama Syrah dengan dasar alasan diatas. Karena kami akan menghasilkan tipe red wine dengan medium full bodied,” jelas James. (Way)