Bagaimana Mural Dikreasikan Untuk Kampanye Sosial

    


Hasil karya mural sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Posko program KKN Universitas Sebelas Maret (UNS) - foto: Meddia/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Tidak semua kegiatan mencorat-coret tembok dimaknai negatif. Sebagian ada pula yang positif, baik untuk lingkungan atau untuk manusianya sendiri.
Seperti kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa UNS Surakarta berikut ini.

Bermodal puluhan galon cat hasil sumbangan sponsor, mereka melakukan aksi mural. Tembok-tembok kampung yang semula tampak kumuh dan kusam, disulap menjadi pemandangan nan indah. Seperti apa potret mural tersebut?

Selama lebih dari 40 hari (09/01-22/02), sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Posko program KKN UNS melakukan aksi nyata. Mereka bermarkas di wilayah kalurahan Semanggi, Pasar Kliwon, Surakarta, Jateng. Atau tepatnya di kampung Sanggungan RT. 04 RW. 17. Beberapa program digelar terkait dengan isu kota Solo wajib menjadi kota layak anak.

“Nah salah satunya adalah program muralisasi. Dengan program mural ini, kami berharap aktivitas anak-anak di kampung ini (Sanggungan), bisa lebih berkualitas, ujar Muhhammad Adi Perwiro (23), selaku ketua dari Posko tersebut.

Mural sendiri artinya adalah lukisan di dinding atau tembok. Mural berasal dari bahasa latin. Yaitu kata Murus yang berarti Dinding. Arti yang lebih luas lagi, mural adalah lukisan yang dilukis pada bidang permanen seperti tembok, dinding, lantai, dan sejenisnya. Mural dulunya dipergunakan sebagai ajang kegiatan spiritual dan ajang eksistensi diri. Nah status mural ini jauh lebih mulia dibanding dengan vandalisme ataupun grafiti yang cenderung merusak, atau dianggap mengganggu pemandangan lingkungan.

Menurut cowok yang akrab disapa Adi ini, salah satu indikasi kota layak anak, adalah tersedianya ruang kreatifitas anak. Sekaligus taman bermain yang ramah bagi anak-anak.

Secara geografis kampung Sanggungan berdekatan dengan sungai yang mengalir di sisi utara. Atau membelah sepanjang perbatasan bagian utara dengan kampung Mertodranan.

Warga menyulap kawasan kumuh menjadi estetis dengan penyampaian pesan melalui mural - foto: Meddia/Koranjuri.com

Warga menyulap kawasan kumuh menjadi estetis dengan penyampaian pesan melalui mural – foto: Meddia/Koranjuri.com

Dengan kondisi tersebut, tentu saja merupakan potensi yang bisa mengurangi keramahan bermain bagi anak-anak. Terutama saat musim hujan seperti sekarang ini. Anak-anak yang bermain di sepanjang pinggir sungai dinilai sangat membahayakan jiwa.

Bahkan beberapa anak dengan nekad menantang bahaya dengan mandi di sungai. Selain airnya kotor tercampur limbah perkotaan, arusnya juga sangat deras saat musim hujan.

Dengan aksi mural ini kami mencoba untuk lebih menyadarkan warga. Baik untuk anak-anak sendiri atau untuk warga yang lebih dewasa, agar lebih waspada dengan bahaya yang mungkin terjadi saat bermain di sungai atau di dekat sungai, imbuh Hartanti Siti Sulastri (21), salah satu anggota tim di Posko KKN UNS tersebut.

Caranya adalah dengan mengecat, atau melukis tembok-tembok di sepanjang pinggir kali dengan slogan-slogan atau ajakan positif. Tentu saja coretan di tembok tersebut dilakukan dengan sentuhan seni. Sehingga tampaklah hasilnya yang berupa gambar-gambar unik, lucu, inspiratif, serta kalimat-kalimat ringan yang mudah dipahami.

Seperti slogan atau ajakan untuk tidak sembarangan buang air besar, ajakan tidak membuang sampah di sungai, atau ajakan untuk tidak bermain di sungai, khususnya di waktu hujan deras atau saat banjir mengancam.

Agar lebih membumi, atau merekatkan ikatan batin warga dengan kreasi mural tersebut, beberapa gambar sengaja diambil dari tokoh-tokoh kampung setempat. Baik gambar dari wajah anak-anak setempat, orang dewasa, atau dipadu dengan tokoh-tokoh superhero yang disukai anak-anak. Juga gambar binatang serta pemandangan alam yang indah.

“Dan semua karya mural tersebut hampir 90% merupakan hasil karya warga setempat sendiri, terutama anak-anak. Dengan begitu mereka merasa ikut terlibat, dan tentu dengan senang ikut memelihara serta merawat hasil karya tersebut,” lanjut Adi lagi.

Selain obyek mural di sekitar sungai, mereka juga menyasar obyek mural di tengah perkampungan. Jalan-jalan kampung serta tembok yang selama ini terlihat kusam dicat dengan gambar-gambar indah. Gambar-gambar bercita-rasa seni tersebut dikerjakan secara bersama-sama. Namun sebelumnya, tim dari posko KKN menjalin kerja sama dengan pihak yang dianggap tahu tentang seni mural.

Ada sosok yang bernama Elham dari Young Surakarta. Dialah yang bersama tim KKN, melatih anak-anak serta warga setempat, untuk mengekspresikan seni dengan kuas serta cat di atas tembok kampung. Beberapa hari sebelum pengerjaaan seni mural, ada pelatihan khusus dari Young Surakarta dibantu tim KKN. Dalam waktu singkat, anak-anak dan warga sudah mahir menggambar dengan kuas cat tembok.

Selain itu ada juga komunitas dari Pena Hitam yang ikut peduli dengan program mural tersebut. Dan tentu saja pihak dari sponsor lain, yaitu perusahaan cat PT. Propan dan PT Indaco ikut membantu kelancaran muralisasi tersebut.

Dosen pembimbing program KKN tersebut, yaitu Dr. Eng. Kusumaningdyah Nurul Handayani S.T., M.T. mengaku sangat senang dan bangga atas kerja semua mahasiswanya. Apalagi respon warga setempat, beserta perangkat pemerintahan, juga menyambut baik kehadiran program KKN mahasiswa UNS tersebut. (Med)