Atasi Dampak Covid-19, Inilah yang Dilakukan Pemdes Krandegan

    


Pasar bergerak, salah satu upaya Pemdes Krandegan, Bayan, Purworejo, dalam mengatasi dampak sosial dan ekonomi akibat Covid-19 - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pemdes Krandegan, Kecamatan Bayan, Purworejo, mempunyai cara unik dalam mengatasi dampak dari pandemi Covid-19, yang dialami warganya.

Dalam bidang kesehatan, pihak desa mendirikan posko-posko Covid-19, penyemprotan disinfektan, maupun pembagian ember, sabun dan masker.

“Kita juga mengedukasi warga tentang Covid-19. Ada tim tersendiri yang melakukan edukasi secara door to door. Kebetulan, ada warga Krandegan yang menjadi dokter, yang melakukan pembekalan sebelum tim diterjunkan,” ujar Dwi Nanto, Kepala Desa Krandegan, Senin (4/5).

Untuk bidang ketahanan pangan, jelas Dwi Nanto, karena dimungkinkan kedepannya akan terjadi kesulitan pangan, dari pihak desa membagikan benih sayuran dan jagung ke warga, untuk ditanam di pekarangan masing-masing.

Dalam mengatasi dampak sosial ekonomi yang dialami warganya, Dwi Nanto juga punya cara tersendiri. Ada kegiatan, yang terbagi menjadi empat klaster, yang dilakukan Dwi Nanto.

“Untuk para pemuda yang terdampak Covid-19 dari keluarga miskin, kita libatkan dalam proyek padat karya, misalnya, membersihkan jalan, drainase, atau makam,” terang Dwi Nanto.

Untuk warganya yang masuk BDT (Basis Data Terpadu) tapi belum mendapat PKH dan BPNT, mereka akan mendapatkan BLT DD. Ada 30 orang yang mendapatkan alokasi dari BLT DD ini.

Dwi Nanto juga mengungkapkan, bahwa pihaknya mencoba mengumpulkan donasi dari berbagai sumber, seperti rekanan, teman maupun warga Krandegan yang ada di perantauan.

Dari dana yang terkumpul, digunakan untuk membantu warga dengan memberikan santunan dan uang tunai, kepada warga berkategori miskin, namun tidak mendapat bantuan apapun. Ada 200 KK yang jadi sasaran dari program ini.

“Kita juga ada konsep pasar bergerak. Setiap pagi, tim akan bergerak ke rumah-rumah warga, menjual sembako dengan harga dibawah pasaran. Harga itu kita subsidi. Misal, harga ayam di pasaran Rp 26 ribu, kita jual Rp 18 ribu. Beras di pasaran Rp 10 ribu, kita jual Rp 6 ribu,” kata Dwi Nanto.

Subsidi tersebut, jelas Dwi Nanto, berasal dari uang donasi, yang penyalurannya terbagi sesuai sumbernya. Dari zakat, dibagi dalam bentuk uang tunai, dan uang sedekah dibagi dalam bentuk sembako.

Dijelaskan oleh Dwi Nanto, bahwa jumlah penduduk Desa Krandegan saat ini mencapai 3 ribu jiwa, terbagi menjadi 900 KK. Dari jumlah tersebut, yang terdaftar dalam BDT 212 orang/KK. Dan yang menerima PKH 123 orang.

“Karena keterbatasan regulasi dan jumlah, harapannya kita bisa menggali dana dari luar,” pungkas Dwi Nanto. (Jon)