Apa yang Harus Disiapkan di Era RI 4.0, Ini Saran Menaker…

    


Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Revolusi Industri 4.0 memberi banyak tantangan transformasi ketenagakerjaan. Hal itu diungkapkan Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri, pada Rakor Bidang Pelatihan dan Produktivitas Tahun 2018 di Aston Hotel, Denpasar, Selasa, 9 Oktober 2018.

Menurut Hanif Dhakiri, banyak peluang sekaligus tantangan saat memasuki era baru digital seperti sekarang. Namun, di sisi lain banyak juga bidang pekerjaan yang hilang karena pergeseran digitalisasi.

“Revolusi Industri 4.0 lebih menekankan pada demand produksi barang dan jasa dengan cara yang lebih individual dan spesifik dibandingkan mekanisme produksi berbasis supply secara masif agar dapat kompetitif,” jelas Hanif, Selasa, 9 Oktober 2018.

Saat ini, menurut Hanif, bekerja tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Bekerja saat ini bisa dimana saja.

Anytime and anywhere, akibat perkembangan teknologi pula, Part Time Job 4.0 juga dimungkinkan. Apa itu Part Time Job 4.0?” ujarnya.

Part Time Job 4.0 adalah kondisi kerja dimana satu orang memungkinkan memiliki lebih dari satu mata pencaharian. Seorang karyawan kantor bisa bekerja di kantornya pada siang hari dan menjajakan properti di malam hari melalui situs online.

Hal tersebut memiliki sisi positif bagi yang memiliki kompetensi dan akses. Namun memberi tantangan bagi masyarakat dan pemerintah karena ekonomi yang tumbuh adalah ekonomi informal. Disebutkan, teknologi juga menyebabkan batasan ruang lingkup kerja semakin samar dan pekerja-pekerja kontrak bebas tumbuh pesat.

Diprediksi, tumbuhnya pekerjaan repetitif yang bisa digantikan mesin atau robot, menurut Hanif, yang tersisa kedepannya hanyalah pekerjaan dengan very high-high skills atau low skills saja.

“Permasalahan ini perlu diantisipasi dengan adanya hukum ketenagakerjaan yang baru untuk jenis-jenis pekerjaan baru tersebut,” jelasnya.

Revolusi Industry 4.0 memiliki potensi mempengaruhi industri dan ekonomi masyarakat yakni, dengan munculnya society 5.0., yang merupakan bentuk masyarakat baru setelah berburu, pertanian, industri dan masyarakat informasi.

Society 5.0 diyakini sebagai hasil dari industry 4.0 karena menciptakan nilai baru dalam hal gaya hidup dan budaya dimasyarakat. Industri 4.0 telah merubah cara barang dan jasa dirancang dan dibuat dikirimkan dan dibayar.

Masyarakat Cerdas ”Society 5.0 khususnya dinegara berkembang, inovasi digital telah di adopsi secara luas. Namun ini memunculkan pertanyaan atau masalah bagaimana hal ini mempengaruhi kebutuhan akan kompetensi dibidang tersebut dan cara pemerintah bekerja dalam menyediakan layananlayanan pelatihan yang dibutuhkan,” jelasnya. (Way)