Alasan Wartawan Purworejo Boikot Pemberitaan Ganti Rugi Lahan Bendung Bener

    


Puluhan Wartawan Purworejo Berunjuk Rasa, di tugu kembar alun-alun Purworejo, Kamis, 9 Januari 2020 - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Puluhan wartawan yang bertugas di Purworejo, baik dari media cetak, elektronik, maupun online, melakukan unjuk rasa, Kamis (9/1/2020) siang, yang dipusatkan di tugu kembar alun-alun Purworejo.

Unjuk rasa tersebut dilakukan, sebagai bentuk protes, atas kata-kata yang diucapkan seorang orator bernama ES, dalam demo yang dilakukan warga terdampak Bendung Bener di PN Purworejo, pada Rabu (8/1/2020).

Dalam orasinya di hadapan ribuan orang, ES menyebut wartawan dengan kata-kata pecundang. Hal itu berkaitan dengan pemberitaan di media pada saat warga berunjuk rasa di DPRD.

ES mempersoalkan harga ganti rugi tanah terdampak Bendung Bener, yang tertulis di media sebesar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per meter. Media mengutip perkiraan harga itu dari seorang warga. Namun, dengan lantang ES meminta media merevisi harga tanah agar ditulis Rp 450 ribu/meter. Namun hal itu menurut media, tidak sesuai fakta di lapangan.

“ES meminta wartawan untuk maju ke depan klarifikasi soal tersebut. Kalau tidak ada yang maju, berarti pecundang. Kata-kata itulah yang membuat kami merasa dilecehkan,” ungkap Marni, korlap unjuk rasa.

Tak terima akan ucapan ES, puluhan wartawan yang bertugas di Purworejo melakukan unjuk rasa di Tugu Kembar. Disini, perwakilan wartawan melakukan orasi.

Sebagai bentuk protes, para wartawan meletakkan kartu pers, dan sepakat untuk memboikot semua pemberitaan yang berkaitan dengan ganti rugi tanah proyek Bendung Bener.

Usai berunjuk rasa, para wartawan menuju Polres Purworejo untuk mengadukan dugaan pelecehan profesi tersebut, dengan pengawalan ketat dari petugas kepolisian.

Kedatangan puluhan wartawan ini, diterima oleh Kapolres Purworejo AKBP Indra Kurniawan Mangunsong. Kapolres langsung memerintahkan Kasatreskrim untuk menindaklanjuti aduan tersebut. (Jon)