Aktifitas Gunung Agung Meningkat, Hujan Abu Terjadi di Desa Puregai

    


Situasi Gunung Agung teramati dari Batulompeh, Rabu, 28 Juni 2018, pukul 17.59 wita - foto: PVMBG

KORANJURI.COM – Larangan untuk warga, pendaki maupun wisatawan diberlakukan seiring meningkatnya aktifitas Gunung Agung sejak erupsi pada Selasa (27/6/2018) malam.

PVMBG mengeluarkan pernyataan, areal bahaya berada di seluruh areal dalam radius 4 km dari kawah puncak Gunung Agung.

“Informasi aktivitas Gunung Agung senantiasa diperbarui setiap 6 jam. Jika masyarakat membutuhkan informasi lebih spesifik, dapat menghubungi Pos Pengamatan Gunungapi Agung yang berada di Rendang maupun di Batulompeh,” jelas Kepala Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Ir Kasbani M.Sc dalam rilis tertulis, Rabu, 28 Juni 2018.

Gunung Agung kembali mengalami erupsi pada Selasa, 27 Juni 2018 pukul 22.21 Wita. Secara visual, teramati kolom gas berwarna putih tebal dari pagi tadi sekitar 200 meter di atas puncak.

Pada sekitar pukul 10.30 Wita, intensitas emisi gas mengalami peningkatan dan disertai abu tipis. Emisi gas dan abu terjadi secara menerus dengan ketinggian berkisar 1.500-2.000 meter di atas puncak dan hingga kini masih berlangsung. Arah sebaran abu ke Barat kemudian membelok ke Baratdaya.

Hal ini dikonfirmasi oleh Tim PVMBG yang melakukan pengecekan di lapangan. Hujan abu dengan intensitas tipis teramati di sekitar Desa Puregai yang berjarak 7 km dari puncak.

Kasbani menjelaskan, kegempaan terjadi secara cepat dalam tempo 12 jam terakhir. Getaran gempa terus terjadi sejak sekitar pukul 12.30 Wita, siang tadi.

“Jika terjadi perubahan yang signifikan maka status aktivitas Gunung Agung dapat dievaluasi kembali,” jelas Kasbani.

Saat ini status Gunung Agung masih berada pada Level III (Siaga). Pada level ini, erupsi dapat terjadi kapan saja.(*)