Aksi Masyarakat Peduli Lawu Menanam Pohon di Area Hutan Lawu yang Rusak

    


KORANJURI.COM – Puluhan komunitas pecinta alam yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Lawu Minggu pagi (12/1/2020) menggelar silaturahmi akbar sekaligus melakukan penanaman pohon di lahan rusak yang viral di medsos akibat penebangan hutan dengan alat berat di petak 45-2 Tlogodringo KPH Lawu Utara.

“Ribuan pencinta alam dan Masyarakat Peduli Lawu bersama sama menanam pohon di lahan yang rusak,” kata Pinjal selaku koordinator silaturahmi akbar dan penanaman pohon di hutan Lawu.

Ditambahkan Pinjal, aksi tanam pohon itu sebagai bentuk keprihatinan para pecinta alam akibat maraknya pembangunan tempat wisata di Gunung Lawu yang ditengarai banyak merusak alam.

Keterangan foto: Pinjal (tengah)koordinator penanaman pohon di lahan yang rusak bersama para aktivis pecinta lingkungan /foto:koranjuri

Pinjal (tengah)koordinator penanaman pohon di lahan yang rusak bersama para aktivis pecinta lingkungan – foto:Koranjuri.com

“Lebih dari tiga ribu pohon berbagai jenis tanaman hutan seperti pinus, damar, kaliptus dan lainnya ditanam di area yang rencananya akan dipakai sebagai Kedai Kopi,” terang Pinjal.

Yang unik dari aksi penanaman pohon tersebut, sebagian besar tanaman diberi tulisan semacam bentuk peringatan berbunyi ‘Sapa wani mateni aku bakal ilang nyawamu’ (siapa berani merusakku bakal hilang nyawa)

Aksi penolakan perusakan hutan di Gunung Lawu selama ini terus disuarakan para pecinta lingkungan dan masyarakat peduli Lawu, baik dari kalangan budayawan ataupun pecinta alam. Mengingat, kawasan Lawu saat ini sudah semakin memprihatinkan dengan terus berkurangnya hutan akibat dikelola para investor sebagai tempat bisnis berbasis wisata.

Keterangan foto:Ketua DPPSBI bersama para aktifis pelestari alam/foto:koranjuri

Ketua DPPSBI bersama para aktifis pelestari alam – foto:koranjuri.com

Hal ini kerap menjadi persoalan di lapangan. Apalagi, sistem tata kelola wisata di kawasan Lawu terkesan sangat amburadul.

“Dampaknya, jika tidak segera ditinjau ulang akan banyak menimbulkan kerusakan alam, jelas Ketua Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI),” jelas Kusuma Putra.

Pemerhati budaya yang juga berprofesi sebagai advokat ini menambahkan, pemerintah harus meninjau ulang seluruh ijin pengelolaan atau kerjasama antara KPH dengan investor.

“Jika dalam pembangunan tempat wisata tersebut terjadi perusakan hutan, maka ijin pengelolaan harus dicabut, baik yang sudah berjalan ataupun yang tengah digarap,” ujarnya.

Pemkab Karanganyar dalam hal ini Dinas Pariwisata, menurut Kusuma, harus jelas menerapkan kebijakan tata ruang kawasan wisata di Gunung Lawu untuk menjaga kawasan hutan Lawu dari kerusakan ekosistem.

Pengelolaan kawasan wisata juga harus berbasis budaya kearifan lokal, sosial ekonomi masyarakat dan kelestarian alam.

KPH selaku pemangku wilayah kehutanan selama ini dinilai Kusuma lalai dan hanya mementingkan bisnis semata,

“Persoalan kerusakan hutan Lawu tiap tahun terus ada,” ujarnya.

Persoalan seperti ini sebenarnya sudah kerap terjadi, namun masyarakat enggan melaporkan kepada pihak yang berwajib. Penebangan pohon dengan alat berat di petak 45-2 Tlogodringo tidak akan menjadi masalah jika tidak viral di media sosial.

Hal ini bukti lemahnya pengawasan dari dinas terkait. Sehingga menurut Kusuma, setiap tahun persoalan perusakan hutan di Gunung Lawu terus terulang.

Sebelumnya juga beredar di media sosial surat dengan kop Perhutani tertanggal 8 Januari 2020, bernomor 13/043.7/Bisnis/Sra/Divre-Jateng, perihal pedoman pengembangan wisata yang ditujukan kepada seluruh mitra pengelola wisata di wilayah KPH Surakarta.

Surat dari perhutani untuk mitra pengelola yang beredar di medsos

Surat dari perhutani untuk mitra pengelola yang beredar di medsos – foto: Koranjuri.com

Dalam surat edaran tersebut, perhutani melarang tidak boleh menebang atau merusak pohon.

Selain itu, juga tidak diperbolehkan menggunakan peralatan mekanis atau alat berat. (JK)