62 Tahun Peringatan Turunnya Wahyu Panca Gaib

    


Anggota Paguyuban Penghayat Kapribaden dari seluruh Indonesia, berkumpul memperingati turunnya Wahyu Panca Gaib yang diterima Romo Semono ke 62 - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Ribuan orang dari seluruh Indonesia, yang merupakan anggota Paguyuban Penghayat Kapribaden (PPK), menghadiri kegiatan peringatan 62 tahun turunnya Wahyu Panca Gaib yang diterima Romo Semono, Senin (13/11), di Desa Kalinongko, Loano, Purworejo.

Romo Semono sendiri merupakan pemimpin, dan penemu ajaran kapribaden, yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara di dunia. Setiap tahun sekali, tepatnya setiap tanggal 13 November, mereka berkumpul di pusat padepokan di Loano, Purworejo ini.

“Untuk mengenang kembali, dimana saat itu, pada 13 November 1955, Romo Semono menerima Wahyu Ponco Gaib (kunci, asmo, mijil, singkir, paweling), yang selanjutnya disebarkan pada para pengikutnya,” jelas Subagyo, ketua panitia.

Suprih Suhartono, Ketua Umum Paguyuban Penghayat Kapribaden, dan Murna Inriyanto, Ketua PPK Jatim - foto: Sujono/Koranjuri.com

Suprih Suhartono, Ketua Umum Paguyuban Penghayat Kapribaden, dan Murna Inriyanto, Ketua PPK Jatim – foto: Sujono/Koranjuri.com

Kegiatan tahun ini, kata Subagyo, diawali dengan sarasehan agung, atau musyawarah nasional ke VI, dengan agenda utama pemilihan ketua umum Paguyuban Penghayat Kapribaden. Dan secara aklamasi, akhirnya Suprih Suhartono, terpilih kembali untuk ketiga kalinya menjadi Ketua Umum Paguyuban Penghayat Kapribaden.

Menurut Murna Inriyanto, Ketua PPK Jatim, dalam proses pemilihan ketua umum ini, terbilang unik. Disini, tidak ada proses pemilihan dengan beberapa calon. Namun dipilih secara aklamasi, atau kesepakatan. Dasar dari pemilihan ini, berdasarkan petunjuk atau isyarat gaib yang diterima para pinisepuh dari Romo Semono.

“Petunjuk yang diterima ini, pasti sama. Berdasar petunjuk itulah, kita menentukan ketua umum,” jelas Munar.

Selain musyawarah agung, kata Munar, kegiatan dimeriahkan dengan bazar, bakti sosial donor darah, lomba mocopat, pagelaran musik kroncong, panembromo, dan pentas kesenian lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PPK terpilih, Suprih Suhartono menjelaskan, dalam munas kali ini, mengambil tema, PPK melestarikan nilai-nilai luhur, kepercayaan terhadap Tuhan YME, mempertahankan Pancasila, UUD 45, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI.

Suprih berharap, dengan diakuinya penghayat kepercayaan oleh pemerintah, maka tidak ada diskriminasi lagi yang dialami para penghayat kepercayaan di kehidupan sehari-hari.

“Bagi para penghayat kepercayaan, di kolom agama di KTP, dulu dikosongkan. Seolah-olah mereka tidak beragama. Namun setelah diakui pemerintah, kolom itu tertulis penghayat kepercayaan,” terang Suprih.

Saat ini, terang Suprih, ada sekitar 187 penghayat kepercayaan yang terdaftar. Dengan diakui pemerintah, Suprih berharap, para penghayat kepercayaan di seluruh Indonesia bisa meningkatkan eksistensinya.

Lebih jauh Suprih menjelaskan, sebagai puncak dari peringatan turunnya Wahyu Panca Gaib ini, pada malam harinya diadakan pentas wayang kulit, dengan dalang Ki Danang Suparmanto Gondo Carito dari Nganjuk, dengan lakon Sekaring Jagad.

Tak seperti pentas wayang pada umumnya, untuk lakon atau tema cerita, si dalang dan para pinisepuh melakukan semedi dulu, memohon petunjuk kepada Tuhan YME melalui Romo Semono. Dari hasil petunjuk itulah, lakon/tema cerita wayang didapat.

“Seperti yang sudah-sudah, lakon ini tidak ada dalam pakem. Secara spiritual, cerita menggambarkan peristiwa selama setahun kedepan, tidak hanya bagi anggota PPK, tapi juga untuk negara dan dunia. Dan yang mendalang ini, uripnya dalang,” terang Suprih.

Sebelum pementasan wayang kulit ini, kata Suprih, diawali dengan kirab tumpeng dan pusaka milik Romo Semono, yakni, tongkat komando dan Sekar Jagad, yang diarak dari dalem bawah, menuju pendopo, atau sasono Adi Roso. Di tempat ini, tumpeng dimakan bersama-sama.

“Tujuan dan harapan dari kegiatan ini, melestarikan ajaran Romo Semono sepanjang masa,” pungkas Suprih, yang didampingi Murna dan Subagyo. (Jon)