60 Paper Internasional Dipresentasikan dalam Pertemuan BMEB

    


Gubernur BI Perry Warjiyo (2 dari kanan) - foto: Ari Wulandari/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bank Indonesia (BI) menggelar pertemuan 12th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) dengan mempresentasikan 60 paper (Call For Paper) berstandar internasional. Pertemuan itu dilaksanakan 2 hari (30-31 Agustus 2018) di Kuta.

Selama dua hari, 60 paper terbaik yang merupakan hasil riset pakar dari dalam negeri maupun internasional dipresentasikan dalam upaya memperkuat kebijakan BI dan sinergi dengan pemerintah.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan, BMEB merupakan jurnal berstandar internasional yang memuat hasil riset terbaik dari dalam dan luar negeri.

“BMEB ini pun diupayakan dapat mendukung rumusan kebijakan BI,” tuturnya dalam penjelasannya di Kuta, Kamis (30/8/2018).

“Paper-paper yang masuk, baik dari peneliti nasional maupun internasional kita undang untuk kita seleksi dan dipresentasikan dalam 2 hari konferensi internasional ini,” jelasnya.

Disebutkan, ada 180 hasil riset yang masuk, tetapi tidak semua berstandar internasional. BI terus melakukan seleksi secara ketat, dari 180 ini kemudian dipilih dan dari jumlah itu 60 paper terbaik.

“Dari 60 paper tersebut 36 itu hasil penelitian dari peneliti Indonesia, dan 24 karya peneliti internasional,” sambungnya.

Secara garis besar, kebijakan itu untuk menjaga stabilitas dan memperkuat momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi keuangan global.

“Paper yang dipresentasikan tersebut, bagi BI dimanfaatkan dalam upaya turut menjaga stabilitas dan memperkuat momentum dari pertumbuhan ekonomi. Kuncinya tidak hanya harus memperkuat ketahanan ekonomi, tetapi juga mampu merumuskan bauran kebijakan,” katanya.

Dijelaskan, bauran kebijakan (policy mix) yang dimaksud yakni optimalisasi sejumlah instrumen.

“Instrumen pertama melalui kebijakan suku bunga, kedua berupa intervensi ganda untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, dan instrumen ketiga dalam bentuk swap valuta asing,” jelasnya.

Sementara dari sisi memperkuat momentum pertumbuhan, BI telah mengeluarkan sejumlah kebijakan, seperti relaksasi loan to value ratio downpayment kredit perumahan, intermediasi makro prudensial, rerata giro wajib minimum, pendalaman pasar keuangan serta pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Perry menegaskan, bagaimana Bank Sentral menerapkan bauran kebijakan yang terdiri dari instrumen suku bunga, stabilisasi nilai tukar rupiah, kemudian juga makro prudensial.

Demikian juga, juga instrumen-instrumen lain pendalaman pasar keuangan, ekonomi keuangan syariah bagi negara-negara yang ingin mengembangkan ekonomi keuangan syariah. (ari)