50.600 Personil Kepolisian Amankan Malam Pengerupukan di Bali

    


Ogoh-ogoh yang dibuat oleh warga Banjar Bengkel, Denpasar ini memang ukurannya memang cukup besar. Beratnya mencapai hampir 2 ton dengan diameter sekitar 5x12 meter. Ogoh-ogoh dengan tema Celuluk ini akan diarak pada malam pengerupukan atau malam menjelang Nyepi, Jumat (20/03/2015) - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Polda Bali mengerahkan 50.600 personil untuk mengamankan perayaan Hari Raya Nyepi (28/3/2017). Jumlah pecalang yang ikut dalam pengamanan sebanyak 22 ribu orang. Terutama, pada malam Pengerupukan.

“Yang saya harapkan semua pihak saling menghormati, sehingga tidak menimbulkan gangguan yang tidak kita inginkan,” kata Kapolda Bali, Irjen Pol. Petrus R. Golose, Jumat, 17 Maret 2017.

Kapolda Bali berharap para tokoh masyarakat, tokoh agama maupun tokoh adat, dapat membantu kepolisian menjaga Kamtibmas selama pelaksanaan Nyepi. Terutama, saat Pengerupukan atau pawai Ogoh-ogoh.

Pihaknya juga mengharapkan, masyarakat yang membuat Ogoh-ogoh tidak menyerempet unsur berbau SARA, Radikalisme dan Inteloransi. Perujudan Ogoh-ogoh, kata Kapolda Bali, seyogyanya disesuaikan dengan filosofi Hari Raya Nyepi yakni, kemenangan Dharma atas Adharma.

“Patuhi aturan hukum yg berlaku di masyarakat, baik hukum nasional maupun adat sehingga tidak terjadi saling gesekan. Kalaupun ada gesekan agar diselesaikan secara musyawarah,” ujar Petrus Golose.

Jumlah Ogoh-ogoh yang rencananya akan diarak pada malam Pengerupukan atau malam menjelang Nyepi tahun ini mencapai 7.079 buah di seluruh Bali.

Rangkaian tradisi Hari Raya Nyepi diawali dengan upacara Melasti, Pengerupukan dan Ngembak Geni. Saat Ngembak Geni ini, warga mendatangi kerabat dan sanak saudara untuk bersilaturahmi.

Saat menjalankan Catur Brata penyepian, warga dilarang melakukan aktifitas kerja atau Amati Karya, Amati Lelungan atau tidak boleh bepergian, Amati Lelanguan yang berarti berpuasa dan Amati Geni atau tidak boleh menyalakan api.
 
 
Way