5 Tempat Keramat Jujugan Jelang Pileg

    


Keterangan foto: Kedung pesiraman di kahyangan yang di yakini sebagai tempat pemandian kanjeng ratu kidul .foto: koranjuri.com

KORANJURI.COM-Pilkada serentak 2018 usai di laksanakan dan berlangsung dengan lancar dan aman.

Setiap lima tahun sekali, pemilihan kepala daerah menjadi momen bagi para politikus berlomba mengais suara melalui program visi dan misi atau melalui cara cara yang lain. Tujuan mereka tidak hanya ingin menduduki kepala daerah, tetapi juga anggota dewan yang terhormat, baik di tingkat daerah ataupun di pusat.

Cara mereka meraih suara tidak hanya dilakukan dengan berpolitik menggerakan mesin partai, tetapi juga dengaan cara menjalani laku ritual dan sesirih di sebuah tempat keramat.

Keterangan foto :Gus Aryo

Keterangan foto :Gus Aryo

Dengan harapan apa yang mereka mohonkan terkabulkan,hal ini dikatakan oleh Gus Aryo, tokoh spiritual yang kerap menuntun para politisi menjalani laku ritual di sebuah tempat keramat guna meraih kedudukan di Pemerintahan.

Tempat keramat yang di maksud Gus Aryo, bukanlah tempat keramat sembarangan, tetapi tempat keramat yang menjadi tempat turunya wahyu kamukten, ujarnya

Untuk mengetahui tempat tersebut menjadi tempat turunya wahyu kamukten, Gus Aryo mengungkapkan.

Pertama, haruslah seseorang yang memiliki linuwih, sehingga ia mampu melakukan kontak bathin dengan para leluhur di tempat keramat tersebut.

Kedua, memiliki sejarah keterkaitan masa silam dengan laku para leluhur.

Ketiga, atas petunjuk jika di dawuhkan oleh para leluhur menjalani laku di sebuah tempat keramat.

Untuk lebih memudahkan prosesi ritual, mereka harus di damping oleh seorang tokoh spiritual.
Sebab bagaimanapun seorang tokoh spiritual adalah guru bathin. Sesuatu yang tidak di ketahui orang biasa akan di ketahui oleh seorang tokoh spiritual melalui komunikasi bathin Tegas Gus Aryo Jati.

Di paparkan olehnya beberapa tempat keramat yang kerap menjadi jujugan orang orang untuk meraih kedudukan dan jabatan di antaranya,

Parangkusuma.
Kawasan pantai di pesisir selatan pulau Jawa ini di yakini adalah pintu gerbang utama keraton segara kidul. Parangkusuma ramai di kunjungi para pelaku ritual setiap malam Jumat, malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon.

Di pinggir pantai, ada sebuah bangunan cepuri yang di dalamnya terdapat batu gilang tempat pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul

Jelang pemilihan kepala daerah, Parangkusuma ramai di kunjungi para calon kepala daerah yang berharap datangnya wahyu kamukten.
Selama proses ritual, para calon kepala daerah biasanya melarung sesaji berupa pisang setangkep, ingkung ayam, sesaji jajan pasar, kembang tujuh rupa serta uba rampe lainya.

Bila menjalani laku selama tujuh kali malam jumat, berarti selama tujuh kali calon kepala daerah harus menggelar ritual larungan.
Para pelaku ritual dalam menjalani laku prihatin mengikuti jejak panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam di tanah Jawa pada saat awal beliau meraih wahyu keprabon. Terang Gus Aryo

Kahyangan
Tempat keramat yang terletak di Kecamatan Tirtamaya Kabupaten Wonogiri ini juga masih memiliki keterkaitan dengan Kanjeng Ratu Kidul dan Panembahan Senopati. Kahyangan di kenal angker sejak jaman para wali. Tempat ini pernah menjadi tempat laku bertapa Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kahyangan seakan menjadi tempat pribadi kediaman Kanjeng Ratu Kidul dan Panembahan Senopati saat keduanya tengah memadu kasih. Beberapa tempat di kahyangan dipercaya merupakan kolam pesiraman Kanjeng Ratu Kidul, sehingga tidak mengherankan bila sampai sekarang Kahyangan dijaga sosok jin bernama Nyai Widyononggo, salah satu senopati perang kanjeng ratu kidul.

Keberadaa Panembahan Senopati di Kahyangan, di kisahkan untuk menggayuh wahyu keprabon. Oleh karenanya  sewindu sekali Keraton Solo sebagai penerus dinasti Mataram Islam menggelar ritual larungan di Kahyangan, karena menjadi bagian dari tempat keramat milik leluhur Mataram Islam di tanah jawa.

Banyak calon kepala daerah menjalani laku di Kahyangan demi memperoleh kedudukan pangkat derajat.
.
Makam Ki Ageng Henis.
Makam keramat milik leluhur raja raja Kasunanan Surakarta ini, menjadi satu dari sekian banyak tempat keramat yang biasa di pakai untuk menjalani laku ritual nggayuh wahyu kederajatan. Makam yang berada di kampung batik Laweyan Solo ini adalah makam cucu Jaka Tarub, sebagai salah satu leluhur trah Mataram Islam.

Banyak pejabat pernah ziarah di makam Ki Ageng Henis, salah satunya mantan Walikota Solo yang sekarang duduk menjadi orang nomer satu di negeri ini.

Pengging
Pengging di kenal sebagai kawasan religi, pusatnya spiritual di Kabupaten Boyolali. Kawasan ini seakan perpustakaan spiritual bagi para pelaku ritual. Karena di kawasan Pengging banyak di penuhi sumber mata air keramat, makam keramat dan petilasan keramat. Seluruh sumber mata air dan tempat tempat keramat di Pengging, antara satu dengan yang lainya memiliki energy aura yang berbeda beda, sehingga apa yang di tuju harus tepat dimana tempatnya untuk memudahkan terkabulkan proses ngalap berkah.

Bagi para pejabat mereka kerap menjalani laku kungkum di pesiraman dalem sinuhun PB X. Sumber mata air ini di yakini memudahkan orang orang mensukseskan meraih jabatan dan kekuasaan.

Pengging tak lagi mengenal istilah hari baik, karena tempat ini setiap hari selalu ramai di kunjungi para pelaku ritual. Oleh karena itu, menjalani laku ritual di Pengging bagi penduduk sekitar adalah sesuatu hal yang biasa, sudah menjadi budaya bagi warga masyarakat sekitar.

Gunung Lawu
Lawu di kenal sebagai centralnya spiritual Nusantara. Segala perkembangan kehidupan yang menyangkut kondisi Nusantara tak lepas dari keberadaan Gunung Lawu. Banyak whisik datang dari para leluhur yang berasal dari Gunung Lawu. Tak jarang perkembangan kondisi bangsa banyak yang di lambangkan di Gunung Lawu.

Bahkan orang orang yang terpilih memimpin bangsa ini, tak lepas dari whisik para leluhur di Gunung Lawu. Di kalangan para tokoh spiritual, hal itu bukan sesuatu yang dianggap aneh. Karena kultur masyarakat Nusantara memang demikian adanya, masih meyakini keberadaan para leluhur.

Sebagai central spiritualnya Nusantara, maka tak sedikit calon kepala daerah di Indonesia berharap meraih wahyu kederajatan di Gunung Lawu.
Dari rakyat jelata, pengusaha ternama, hingga pemimpin bangsa mereka mengakui keberadaan Gunung Lawu sebagai pancer spiritual Nusantara. Ratusan tempat keramat tersebar di lereng lereng gunung hingga ke puncak Gunung Lawu, pungkas Gus Aryo Jati Al Dzat/ jk